https://sofifi.times.co.id/
Berita

Pacitan Belum Bebas PMK, Dua Ternak Dilaporkan Mati di Awal 2026

Selasa, 13 Januari 2026 - 12:15
Pacitan Belum Bebas PMK, Dua Ternak Dilaporkan Mati di Awal 2026 Pasar hewan diduga menjadi salah satu penyebab penularan PMK dan antraks di Pacitan (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMES SOFIFI, PACITAN – Status bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Pacitan masih menjadi pekerjaan rumah bagi otoritas setempat. 

Meski kasus tidak lagi melonjak seperti tahun-tahun sebelumnya, laporan kematian ternak di awal 2026 menandakan bahwa ancaman PMK belum sepenuhnya hilang dari wilayah ujung barat daya Jawa Timur tersebut.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan mencatat sedikitnya dua ekor ternak mati dengan indikasi PMK. 

Temuan ini menjadi penanda bahwa klaim zero PMK belum bisa disematkan secara resmi, meskipun situasi dinilai relatif terkendali.

Kepala DKPP Pacitan, Sugeng Santoso, secara terbuka mengakui bahwa sampai saat ini Pacitan belum sepenuhnya steril dari PMK.

Ia menegaskan bahwa penyebutan zero kasus harus didasarkan pada nihilnya temuan kematian ternak yang terindikasi penyakit tersebut.

“PMK kalau dikatakan zero sebetulnya belum. Masih ada beberapa kematian yang terindikasi. Secara umum masih aman. Jadi tidak sebanyak kasus tahun kemarin,” ujar Sugeng, Selasa (13/1/2026).

Sugeng mengungkapkan, laporan kematian ternak terakhir diterima pada akhir Desember 2025.

Dari hasil penelusuran di lapangan, pola kematian ternak yang terjadi menunjukkan kesamaan dengan kasus-kasus sebelumnya, yakni berkaitan dengan masuknya hewan baru ke dalam kandang yang sudah ada.

“Akhir Desember kemarin masih ada laporan ternak mati. Biasanya ada ternak baru yang masuk ke kandang terus membawa penyakit,” katanya.

Menurut Sugeng, kasus kematian tersebut umumnya tidak terjadi pada ternak lama yang telah beradaptasi di kandang. Justru, ternak baru yang belum melalui proses karantina memadai kerap menjadi pemicu penularan.

“Kebanyakan laporan yang mati itu di situ ada ternak baru,” imbuhnya.

DKPP Pacitan menduga ternak-ternak tersebut berasal dari luar daerah. Mobilitas ternak antardaerah, khususnya melalui pasar hewan, masih menjadi celah utama masuknya virus PMK ke wilayah Pacitan.

“Diduga dari pasar luar Pacitan,” ujar Sugeng singkat.

Data DKPP mencatat, dua peternak telah melaporkan kasus kematian ternak tersebut. Lokasinya tersebar di Kecamatan Tulakan dan Kecamatan Pacitan. 

Meski jumlahnya terbatas, temuan ini tetap menjadi perhatian serius mengingat potensi penyebaran PMK yang sangat cepat jika tidak diantisipasi.

Sugeng menegaskan bahwa kondisi saat ini jauh lebih terkendali dibandingkan masa puncak wabah PMK beberapa tahun lalu. 

Pergerakan kasus tidak masif dan tidak memicu lonjakan laporan di banyak kecamatan secara bersama an. “Pergerakannya tidak semasif penanganan PMK dan antraks sebelumnya,” katanya.

Tak Ada Anggaran Vaksinasi

Sebagai bagian dari strategi pencegahan, DKPP Pacitan tetap menjalankan vaksinasi ternak, khususnya untuk penyakit antraks. 

Program ini terus digulirkan meskipun keterbatasan anggaran menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam mendukung operasional tenaga vaksinator.

“Vaksinasi antraks jalan terus. Meskipun tidak ada anggaran untuk support tenaga vaksinator. Saya lihat progres laporan mingguannya juga jalan terus,” jelas Sugeng.

Saat ini, DKPP Pacitan masih memiliki stok vaksin antraks sebanyak 30 ribu dosis. Vaksin tersebut memiliki masa kedaluwarsa hingga Oktober 2026 dan ditargetkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk melindungi populasi ternak di Pacitan.

“Vaksinnya 30 ribu dosis sampai Oktober 2026 nanti,” terangnya.

Hingga pertengahan Januari 2026, hampir 10 ribu ekor ternak telah menerima vaksin. Program vaksinasi tersebut mencakup ternak sapi maupun kambing yang tersebar di berbagai kecamatan.

“Sekarang sudah hampir 10 ribu ekor ternak sudah tervaksin. Baik sapi maupun kambing,” ujar Sugeng.

Khusus ternak kambing, DKPP menerapkan kebijakan efisiensi dosis. Satu dosis vaksin digunakan untuk dua ekor kambing dengan pertimbangan efektivitas dan ketersediaan stok.

“Kambing separuh dosis. Satu dosis buat dua ekor,” tambahnya.

Di sisi lain, pengawasan lalu lintas ternak menjadi fokus utama DKPP Pacitan. Petugas secara intens diterjunkan ke pasar-pasar hewan setiap hari pasaran. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keluar-masuk ternak dapat dipantau dengan ketat sekaligus memberikan edukasi langsung kepada peternak dan pedagang.

“Petugas kami intens terjun ke lokasi pasar hewan setiap pasaran dan membantu keluar masuknya ternak sekaligus sosialisasi penanganan PMK,” kata Sugeng.

Langkah preventif tersebut menjadi krusial mengingat catatan kasus PMK di Pacitan sepanjang 2025 masih tergolong tinggi.

DKPP mencatat total 1.518 ekor ternak terpapar PMK selama tahun lalu. Dari jumlah itu, sebanyak 197 ekor ternak dilaporkan mati akibat penyakit tersebut.

Meski demikian, DKPP menilai situasi secara umum masih terkendali berkat kombinasi vaksinasi, pengawasan pasar ternak, serta peningkatan kesadaran peternak dalam melaporkan gejala penyakit sejak dini.

Dengan masih ditemukannya kasus di awal 2026, DKPP Pacitan mengimbau peternak agar lebih disiplin dalam menerapkan biosekuriti kandang. 

Proses karantina ternak baru sebelum digabungkan dengan ternak lama dinilai menjadi kunci untuk mencegah masuknya PMK dari luar daerah. (*) 

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Sofifi just now

Welcome to TIMES Sofifi

TIMES Sofifi is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.