TIMES SOFIFI, BLITAR – Bung Karno dikenal luas sebagai ikon bangsa Indonesia. Perannya sebagai proklamator, Presiden pertama, pemimpin revolusi, hingga penyambung lidah rakyat membuatnya menempati posisi istimewa dalam sejarah nasional.
Bung Karno dan Bung Hatta sama-sama berperan penting pada Proklamasi 17 Agustus 1945. Namun, dalam perjalanan sejarah, Bung Karno lebih menonjol sebagai simbol bangsa. Ia tidak hanya membacakan teks proklamasi, tetapi juga memimpin Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan.
Bung Karno, Presiden Pertama dan Penyambung Lidah Rakyat
Sejak awal memimpin, Bung Karno dikenal dekat dengan rakyat. Ia mendapat julukan penyambung lidah rakyat Indonesia karena selalu menyuarakan aspirasi masyarakat kecil. Dalam pidato-pidatonya, ia menekankan bahwa seluruh perjuangan politiknya semata-mata untuk rakyat Indonesia.
Seorang pengunjung berfoto di depan lukisan Bung Karno di Galeri Bung Karno , simbol penghormatan generasi muda terhadap Bapak Bangsa. (FOTO: Ardana Pramayoga/TIMES Indonesia)
“Bung Karno punya karisma kuat yang membuat rakyat merasa suaranya terwakili. Julukan penyambung lidah rakyat menunjukkan betapa ia hadir sebagai simbol perlawanan dan harapan,” ujar Fadhillio Ibra Farissandro Abriakto, pengunjung Makam Bung Karno di Blitar, Rabu (20/8/2025).
Sebagai Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno tampil sebagai pemimpin revolusi yang mampu menyatukan berbagai elemen bangsa. Ia tidak hanya berperan dalam politik nasional, tetapi juga aktif memperkenalkan Indonesia di dunia internasional.
Visi Pembangunan dan Warisan Sejarah
Selain karismanya, Bung Karno meninggalkan warisan pembangunan yang besar. Ia merancang Jakarta sebagai kota modern dengan proyek-proyek mercusuar yang masih berdiri hingga kini.
Monumen Nasional (Monas), Gelora Bung Karno, hingga Tugu Selamat Datang adalah bukti visi Bung Karno dalam membangun identitas bangsa. Monumen tersebut kini menjadi simbol kota sekaligus pengingat perjuangan nasional.
Di bidang ideologi, pidatonya pada 1 Juni 1945 tentang Pancasila menjadi landasan penting dalam pembentukan dasar negara. Gagasan itu memperlihatkan pemikirannya yang visioner sekaligus mempertegas posisinya sebagai bapak bangsa.
Potret Bung Karno bersama keluarga kecilnya. Tercantum pesan mendalam, “Saya mencintai keluargaku, tapi saya lebih mencintai negeriku.” (FOTO: Ardana Pramayoga/TIMES Indonesia)
Sementara itu, Bung Hatta lebih dikenal dalam peran teknokratis. Ia berkontribusi besar dalam bidang ekonomi dan diplomasi. Namun, ketokohannya tidak membentuk simbol publik sekuat Bung Karno. Bung Hatta dihormati sebagai proklamator dan wakil presiden pertama, tetapi tidak memperoleh julukan atau narasi politik sebesar Bung Karno.
Mengapa Bung Karno Sangat Dicintai dan Menjadi Ikon Bangsa?
Bung Karno menjadi ikon bangsa karena kombinasi antara kepemimpinan politik, karisma oratoris, dan narasi simbolik yang melekat hingga kini. Julukan penyambung lidah rakyat memperkuat posisinya sebagai figur yang dianggap mewakili aspirasi masyarakat luas.
Sejumlah pengamat menilai, faktor lain yang membuat Bung Karno lebih menonjol adalah perannya di panggung internasional. Melalui Konferensi Asia-Afrika 1955, ia membawa Indonesia ke kancah global dan memperlihatkan keberanian negara baru dalam percaturan dunia.
Masyarakat masih mengingat Bung Karno melalui berbagai simbol antara lain makamnya di Blitar yang selalu ramai diziarahi, monumen di Jakarta, serta nama jalan, bandara, dan stadion. Simbol-simbol itu memperkuat ingatan kolektif bangsa tentang sosok Bung Karno sebagai ikon nasional.
Dengan demikian, meski Bung Hatta berperan penting sebagai proklamator, pemikir ekonomi, dan wakil presiden pertama, Bung Karno lebih diingat publik. Karisma, simbol perjuangan, warisan pembangunan, hingga statusnya sebagai penyambung lidah rakyat membuat Bung Karno menempati posisi yang berbeda sebagai ikon bangsa Indonesia. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Bung Karno Sosok yang Menjadi Ikon Bangsa Indonesia, Mengapa Bukan Bung Hatta?
Pewarta | : TIMES Magang 2025 |
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |