Di Rakon PKK Malut, Densus 88 Ungkap Data Kerentanan Anak Terhadap Radikalisme
Rapat Konsultasi PKK Provinsi Maluku Utara tahun 2026 bersama panelis PPA Provinsi Maluku Utara dan juga akademisi psikolog (FOTO: Densus 88 Polri for TIMES Indonesia)

Di Rakon PKK Malut, Densus 88 Ungkap Data Kerentanan Anak Terhadap Radikalisme

Densus 88 hadir untuk memberikan penguatan kepada para kader PKK mengenai peran keluarga dalam mendeteksi dini pengaruh paham berbahaya.

TIMES Sofifi,Selasa 12 Mei 2026, 10:07 WIB
1.4K
H
Haerun Hamid

TERNATEUnit Pencegahan Satgaswil Maluku Utara Densus 88 AntiTeror Polri memaparkan data strategis terkait ancaman radikalisme yang menyasar generasi muda.

Hal tersebut disampaikan dalam diskusi panel Rapat Konsultasi (Rakon) PKK Provinsi Maluku Utara tahun 2026 yang berlangsung di Hotel Sahid Bela Ternate, Senin (11/5/2026)

Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 150 anggota PKK dari seluruh kabupaten/kota di Maluku Utara ini dibuka secara resmi oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Malut, Rusni Sarbin.

Dalam kesempatan tersebut, Densus 88 hadir untuk memberikan penguatan kepada para kader PKK mengenai peran keluarga dalam mendeteksi dini pengaruh paham berbahaya.

Kanit Pencegahan/Idensos Satgaswil Maluku Utara Densus 88, Iptu Herry Rinsampessy, SH, yang hadir sebagai narasumber, membeberkan fakta mengenai sebaran paparan radikalisme.

Tercatat, terdapat 112 anak di Indonesia yang terpapar radikal-terorisme di 26 wilayah, dengan angka tertinggi di Jawa Barat (18 anak) dan Jawa Tengah (11 anak).

Menurut Iptu Herry, rentang usia 10 hingga 18 tahun menunjukkan betapa rentannya remaja di Tanah air.

Proses radikalisasi ini seringkali berlangsung secara bertahap melalui doktrinasi di lingkungan keluarga, pergaulan sosial, hingga konsumsi propaganda daring yang mengagungkan aksi kekerasan sebagai bentuk perjuangan," ujarnya.

Selain isu radikalisme ideologis, Iptu Herry juga menyoroti fenomena kekerasan tipe Terrorism-Claimed Content (TCC).

Tercatat ada 70 anak di 18 provinsi yang terpapar fenomena ini, di mana sebagian besar dipicu oleh faktor psikososial seperti perundungan (bullying), masalah keluarga, dan keterasingan sosial, bukan karena landasan ideologi yang jelas.

Menanggapi paparan tersebut, Kepala Dinas PP-PA Provinsi Malut, Dra. Hairiah, M.Si, yang juga menjadi panelis bersama Psikolog UNKHAIR, Amalia S.J Kahar, M.Psi, menyampaikan apresiasi dan terima kasihnya. 

Menurutnya, informasi ini merupakan alarm penting bagi seluruh orang tua dan kader PKK di Maluku Utara.

"Kami sangat berterima kasih kepada Unit Pencegahan Satgaswil Densus 88 yang telah berbagi pengetahuan ini. Kader PKK kini memiliki bekal tambahan untuk menjaga lingkungan keluarga mereka dari pengaruh konten kekerasan dan paham radikal," pungkas Hairiah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Haerun Hamid
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Sofifi, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.